“PREMANISME” DI PEKERJAAN


eye1

Secara terminologi, premanisme berarti adalah orang yang suka melakukan kejahatan dan perampasan barang milik orang lain. Beberapa artikel menyebutkan bahwa kata premanisme berasal dari bahasa Belanda, dari asal kata Vrijman yang artinya orang bebas, senada dengan istilah Inggris, Free Man (orang bebas). Preman, merupakan sebuah sebutan kiasan yang merujuk kepada kegiatan individu atau sekelompok orang yang mencari penghasilan dari pemerasan dengan cara kekerasan dan tindak pidana lainnya kepada anggota masyarakat lainnya.

Premanisme adalah sebuah penyakit sosial karena tidak berfungsinya tertib sosial, norma dan sistem nilai hukum dan cenderung lebih mengutamakan kekerasan, kekuatan, pengaruh atau kekuasaan tanpa mengindahkan aturan, keadilan dan kepatutan yang berlaku di lingkungan masyarakat.

Teringat dengan pujangga Ronggowarsito yang menyebutkan bahwa:

Amenangi jaman edan                                           ( Mengalami jaman gila / penuh dengan kekacauan )

ewuh aya ing pambudi                                           ( sukar dan sulit (dalam) akal ikhtiar )

Melu edan nora tahan                                            ( Ikut gila tidak tahan )

yen tan melu anglakoni                                          ( kalau tak turut menjalaninya )

boya kaduman melik                                              ( tidak bakal mendapatkan bagian )

Kaliren wekasanipun                                              ( kekurangan-lah yang didapat )

Dilalah karsa Allah                                                  ( Keadilan kehendak Tuhan, (adalah) )

Begja-begjane kang lali                                          ( seberuntung-beruntungnya orang yang lupa,  )

luwih begja kang eling lawan waspada         ( masih lebih beruntung bagi  yang sadar dan berhati-hati )

(pupuh 7, Kalatidha)

 

terjemahan bebas..:

“ jika suatu masyarakat / komunitas berada pada kondisi yang “carut-marut” baik secara norma, etika dan aturan, maka anggota komunitas pada umumnya akan bertindak dengan tidak mengindahkan norma, etika dan aturan dan hanya sekedar “berebut” harta / pekerjaan / uang yang lebih banyak / kedudukan / pangsa pasar / pengikut …dsb dsb..

6a00e551c9a733883300e553c0fb668833-800wi

..namun keberuntungan yang bersifat abadi hanya diberikan kepada orang-orang yang selalu sadar dan berhati- hati dalam bertindak  berdasarkan norma, etika dan aturan yang berasal dari Tuhan …..

 

Akhir-akhir ini semakin di amati di lingkungan pekerjaan (mungkin sudah dari dulu) semakin banyak kejadian yang masuk dalam kategori premanisme sekaligus cocok dengan uraian pujangga Ranggawarsita tersebut.

Rekan praktisi HR perlu extra berhati-hati mengingat pekerjaan kita adalah utamanya mengelola manusia, jika praktisi HR melakukan premanisme dan menghalalkan segala cara dalam menjalankan tanggung jawabnya maka dampak yang ditimbulkan akan sangat besar mengingat kita berada di “pusat kendali” pengelolaan manusia di suatu komunitas / perusahaan.

Berikut adalah beberapa contoh yang perilaku premanisme di pekerjaan yang sempat teridentifikasi, dengan harapan  semoga bukan merupakan kebiasaan yang kita lakukan di lingkungan pekerjaan kita masing-masing:

 

1. MENYEBARKAN ISSUE

Adakalanya untuk menjatuhkan satu pihak yang terlalu kuat “posisi tawarnya” maka pihak lawan akan melemparkan issue-issue negatif agar “masyarakat karyawan” akan memunculkan tindakan / sikap negatif terhadap pihak yang menjadi target issue negatif. 

Jika issue negatif tersebut dapat di telusuri sumbernya, maka biasanya si sumber issue akan memberikan argumen bahwa issue tersebut sebatas pendapat pribadi yang muncul pada saat sessi obrolan santai, sedangkan masalah penyebarannya dia akan mengaku tidak tahu menahu sama sekali.  Apalagi sekarang orang kebanyakan memiliki anggapan bebas berpendapat.

Sumber issue ini biasanya adalah orang yang pernah “merasa kalah” dari anda, dan tidak memiliki kekuatan dan kesempatan untuk “membalas”, selain itu biasanya orang-orang seperti ini memiliki wawasan pengetahuan yang sempit dan suka memaksakan pendapatnya di waktu rapat, meskipun pendapatnya salah.

Cara pengatasannya:   

ikh0025lJangan panik dan tidak perlu emosi, segera siapkan data-data fisik terkait dengan issue tersebut, dan perlihatkan data anda hanya jika ada yang meminta konfirmasi kepada anda. Ingat data otektik, hitam di atas putih, akan sangat sangat berharga sekali.



Pencegahannya:          

Usahakan anda memiliki reputasi yang baik dan positif kepada semua pihak, minimal jangan pernah merugikan pihak lain dan milikilah banyak teman.

 

2.  MENCIPTAKAN STIGMA – CITRA NEGATIF (PENCITRAAN SUBYEKTIF)

Penciptaan stigma ini merupakan pengembangan dari penyebaran issue, di dalam istilah politik dikenal dengan istilah BLACK CAMPAIGN, yaitu usaha-usaha penyebaran informasi agar tercipta suatu anggapan yang salah di masyarakat terhadap pihak-pihak tertentu.

Bila kita amati dengan baik, PENCITRAAN SUBYEKTIF ini akan dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak mampu sekali lagi tidak mampu membuat / memberikan BUKTI-BUKTI KONKRIT / MATERIIL dengan menggunakan cara-cara / metode yang telah disepakati secara umum, terkait dengan pembentukan CITRA  POSITIF pada dirinya, atau pembentukan CITRA NEGATIF pada pihak lawan.

bully-boss02_0

 Cara-cara yang dilakukan diantaranya adalah :

a. penyebaran fitnah (tuduhan palsu),

b. penyesatan informasi, dengan cara:

1. penyesatan interpretasi terhadap suatu makna tertentu, ( penyesatan logika )

2. penggunaan sebagian kecil informasi negatif untuk melakukan generalisasi terhadap keseluruhan masalah,

3. penyampaian informasi yang salah secara terus menerus (misalnya melalui iklan media)

4. menciptakan kesalahpahaman antara pihak lawan dengan pihak lainnya hingga tercipta konflik, sementara yang menciptakan kesalahpahaman malah diam dan menonton.

c.        Memberikan prediksi / janji yang sangat menggiurkan dibandingkan kondisi saat ini, misalkan: jika demo yang direncanakan berhasil, maka salah satu hasilnya adalah gaji karyawan akan naik 100%. Strategi ini sangat sering digunakan untuk menggalang masa demo. (catatan: ini merupakan pengalaman nyata yang pernah penulis hadapi ).

Cara  tersebut  juga sering dilakukan  menjelang pemilu saat ini oleh beberapa partai tertentu.

 

3.  MEMAKSAKAN KEHENDAK

Ada pihak, selain atasan anda, yang secara fisik lebih kuat, atau secara kelompok dia lebih besar, atau secara “posisi tawar” lebih tinggi daripada anda, berusaha memaksakan kehendaknya, disisi lain anda yakin bahwa kehendaknya tersebut menyimpang dari aturan / ketentuan perusahaan yang seharusnya.  Misalkan ada salah satu pimpinan di perusahaan anda, memaksa anda untuk memasukkan famili / teman meskipun hasil seleksinya tidak memenuhi kualifikasi. 

pushing-other   pd_office_080325_ms

 

 

 

 

 

Cara pengatasannya:

Cara terbaik adalah KEMBALI KEPADA ATURAN MAIN YANG TERTULIS atau jika tidak ada aturan tertulis menyangkut hal tersebut, katakan SAYA  AKAN MELAPORAN PADA ATASAN SAYA TERLEBIH DAHULU MENGENAI HAL INI, kemudian pastikan anda mendapatkan rekomendasi tertulis darinya. Pastikan juga “atasan” anda adalah pihak yang disegani oleh yang memaksakan kehendak tersebut.

Cara pencegahan: 

Pastikan ada aturan tertulis resmi dari manajemen perusahaan untuk segala sesuatu yang berpotensi konflik kepentingan, potensi fraud, dan potensi penyalahgunaan wewenang. Bekerjalah selalu sesuai dengan aturan yang berlaku.

 

4.  AGITASI – PROVOKASI

Adakalanya ada orang-orang tertentu yang tidak sekedar menyebarkan issue, namun juga menggalang dan menggerakkan massa untuk melakukan suatu perbuatan pemaksaan kehendak secara massal, contoh mudahnya adalah demo, dan mogok kerja.

Sedangkan AGITASI – PROVOKASI yang dilakukan oleh karyawan kerah putih adalah melakukan sabotase baik secara fisik / materiil ataupun secara organisasi. Seringkali orang yang menjadi sasaran AGITASI dan PROVOKASI ini kaget dan panik, karena tidak menyangka bahwa akan terjadi hal demikian. 

Cara pengatasan #1:   

Ingat, bahwa dampak dari AGITASI-PROVOKASI-SABOTAGE ( APS ) yang telah terjadi tidak mungkin dihindari, maka yang terbaik yang dapat dilakukan adalah “mengurangi” dampak kerugian yang semakin besar. Jika APS ini dilakukan oleh karyawan kerah biru (berupa demo dan mogok kerja), maka cara pengatasannya adalah: 

    1. Segera hubungi pihak keamanan / kepolisian untuk pengamanan asset perusahaan serta pencegahan tindakan pengrusakan.
    2. Jika ada karyawan yang melakukan tindakan pengrusakan maka usahakan pihak keamanan mau dan mampu mengatasi tindakan di maksud. Selain itu usahakan ada rekaman film / foto terhadap tindakan anarkis dimaksud. Untuk nantinya menjadi bukti pada saat perkara pengrusakan diselesaikan dikepolisian.
    3. Seluruh jajaran manajemen dan staf kerah putih wajib dikumpulkan dan usahakan top manajemen mau terlibat dan memberikan arahan-arahan terkait dengan adanya demo.
    4. Usahakan aktivitas usaha perusahaan tetap berjalan, meskipun harus melibatkan karyawan level manajemen untuk menjalankan pekerjaan yang sebelumnya menjadi pekerjaan kerah biru. Hal ini untuk tujuan agar pihak karyawan yang mendemo melemah semangatnya.
    5. Usahakan jalan negosiasi setelah pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kerah biru hampir selesai ditanggulangi.
    6. Jika memungkinkan, rebut kembali simpati karyawan kerah biru dengan memberikan air dalam kemasan namun setelah pendemo terlihat lelah (paling tidak setelah 2 – 3 jam pelaksanaan demo) dan jumlah air dalam kemasan yang diberikan sebaiknya 80% dari total yang dibutuhkan. Berikan tambahan sisanya setelah 1 jam kemudian.images1
    7. Usahakan negosiasi hanya kepada sebagian kecil peserta demo (perwakilan) di mana sebelumnya telah dibuatkan alternatif-alternatif tindakan manajemen beserta analisa dampak biayanya. Usahakan agar isi negosiasi benar-benar sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan yang berlaku, tidak lebih tidak kurang.
    8. Pastikan penggerak demo teridentifikasi dengan baik dan usahakan menjadi target utama untuk diberikan pemutusan hubungan kerja, mengingat dengan demo maka kerusakan yang ditimbulkan sangat parah yaitu kerusakan moral kerja karyawan, kerugian materiil karena pekerjaan hari itu tidak menghasilkan pendapatan bagi perusahaan, dan kerugian nama baik perusahaan. Selain itu ada beberapa bidang bisnis yang harus membayar denda jika ada keterlambatan penyelesaian pekerjaan.

 

Cara pengatasan #2 :

Sedangkan Agitasi dan Provokosi dan atau Sabotage yang dilakukan oleh karyawan kerah putih, dapat diatasi dengan cara:  

    • Usahakah anda mendapatkan persetujuan dari top manajemen agar diijinkan untuk menjalankan suatu program yang mewajibkan kontribusi dari seluruh komponen organisasi.
    • Buatkanlah aturan main yang jelas mengenai skema reward dan punishment.
    • Bentuk tim audit yang berdiri sendiri dan bukan menjadi bagian dari tim kerja anda, namun pastikan mandat yang anda dapat dari top manajemen dapat “menggerakkan tim audit” untuk bekerja sama dengan anda.
    • Pastikan anda memiliki jaringan kerja yang kuat dengan lapisan kedua dan ketiga dari karyawan kerah putih yang anda identifikasi penggerak sabotage.
    • Pastikan sebelum program kerja tersebut dijalankan dilakukan sosialisasi secara baik.
    • Selama periode waktu tertentu lakukanlah monitoring dan evaluasi secara formal, sekali lagi formal, dan buatkan laporan resmi kepada manajemen untuk menjadi bahan rapat dalam dewan direksi.
    • Mintalah top manajemen untuk menjalankan skema reward dan punishment tersebut dan buatlah publikasi besar-besaran di internal perusahaan mengenai hal tersebut.mmo0141l

 

Cara pencegahan:      

    1. Pastikan aturan main yang ada di dalam suatu komunitas / perusahaan sangat jelas mengatur skema reward dan punishment.
    2. Pastikan aturan main tersebut dilaksanakan secara konsisten dan tidak memihak serta diketahui dan dipahami dengan baik oleh seluruh bagian dari komunitas / perusahaan.
    3. Usahakan budaya reward – performance, lebih dominan daripada budaya punishment.
    4. Khusus untuk lingkungan perusahaan, usahakan antara kontribusi yang diberikan dan reward yang diperoleh karyawan benar-benar memiliki hubungan sebab akibat yang sangat kuat.        
    5. Usahakan bahwa di dalam skema reward mencakup juga reward non financial.


5.  MENCIPTAKAN KONFLIK DAN PERBEDAAN PENDAPAT

debateOrang yang cenderung menyukai  konflik dan berbeda pendapat  pada umumnya dapat anda temui pada saat rapat. Ciri-cirinya mudah dikenali, yaitu: 

    1. Setiap ada pengajuan ide baru, orang yang menyukai konflik cenderung sering ber-oposisi dengan pengajuan ide baru tersebut. Namun tidak semua orang yang ber-oposisi ini berkonotasi negatif.  Konotasi positif akan terjadi jika pihak oposisi ini tidak sekedar menyatakan ketidak-setujuannya, namun juga memberikan penjelasan latar belakang sudut pandangnya, menguraikan analisa sebab akibat ketidak setujuanya, menjelaskan dampak resiko jika ide baru tersebut dilaksanakan dan memberikan masukan-masukan yang tepat untuk solusi jalan tengahnya. 
    2. Apabila pihak oposisi ini tidak mampu menjelaskan lebih lanjut alasan dan pertimbangan ketidak setujuannya, maka biasanya mereka akan beralih ke topik yang lain, atau mereka akan mengajukan alasan ketidaksetujuannya adalah berdasarkan pengalaman dan feelingnya.  Mereka biasanya adalah orang yang ingin kecenderungan dominasi yang tinggi   tanpa didukung oleh kemampuan yang sejalan. Biasanya setelah rapat mereka akan mengadakan rapat lanjutan sebatas pada orang-orang yang mendukung pendapatnya. 
    3. Intinya adalah, di dalam setiap rapat / pembicaraan orang-orang ini lebih suka MEMBICARAKAN MASALAH, daripada MENCARI SOLUSI NYATA yang dibutuhkan. Perhatikan sekeliling anda.

Dampak dari penciptaan konflik dan perbedaan pendapat tanpa disertai dengan  perumusan alternatif solusi yang konkrit adalah TERCIPTANYA RASA TIDAK AMAN di kalangan anggota komunitas / karyawan perusahaan. Sehingga,  karyawan / anggota komunitas akan mengalami kesulitan fokus di pekerjaannya, akibat dari perasaan gelisah dan atau cemas sebagai akibat dari adanya rasa tidak aman tersebut.  Dampak selanjutnya adalah produktifitas kerja turun, dan potensi  mogok kerja menjadi meningkat.

Cara Pengatasan:

Apabila anda menemui orang atau sekelompok orang yang suka menciptakan konflik dan adu pendapat, jangan sekali-kali ditentang pendapatnya, namun biarkan yang bersangkutan menyampaikan ketidak setujuannya hingga selesai, kemudian lanjutkan dengan menanyakan mengenai alternatif solusi berupa LANGKAH TINDAKAN YANG NYATA.  Jangan terjebak dengan penyampaian ide yang cenderung seperti sloganisme. Anda harus fokus dan bertahan pada meminta masukan dari yang bersangkutan termasuk alternatif solusinya. 

Apabila yang bersangkutan hendak berpindah topik, maka kembali lagi tawarkan kepada peserta rapat, mengenai permasalahan mana yang akan dibahas terlebih dahulu dan sampaikan agar setiap pembahasan diselesaikan hingga tuntas sebelum masuk ke permasalahan berikutnya.

Namun, apabila yang bersangkutan mampu menyampaikan alternatif solusi secara jelas dan berurut, dan analisis dampak resikonya, maka berikanlah respect anda kepadanya. 

Cara Pencegahan:

collaboration

Sebelum rapat dimulai usahakan ada komitmen mengenai aturan rapat, bahwa setiap pendapat yang diajukan ditujukan untuk mencari solusi yang terbaik, bukan untuk AJANG PERDEBATAN MASALAH, namun untuk mencari SOLUSI KONKRIT.

 

Nah, rekan praktisi HR yang saya hormati, hal tersebut di atas tidak hanya terjadi atau dilakukan di lingkungan perusahaan saja, bahkan terjadi pula di dunia politik, dunia pemasaran, media massa,  internet, dan persaingan usaha dan di komunitas masyarakat paling kecil misalkan lingkungan rukun tetangga.

Tips paling jitu adalah untuk selalu berpedoman pada tindakan yang bisa menghasilkan manfaat yang lebih pada mayoritas anggota komunitas / mayoritas karyawan dan menghindari kerugian terhadap anggota komunitas yang paling lemah / karyawan tingkat bawah.

Salam,

Nurahman DS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

2 Responses to ““PREMANISME” DI PEKERJAAN”

RSS Feed for HR GLOBAL HERE – Life is spreading goodness Comments RSS Feed

Interesting article … Kombinasi antara keluasan wawasan dan kongkrit membumi dengan keseharian kita sebagai HR .

Thanks you boss atas commennya.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: